Thursday, September 15, 2016

Lamaran ditolak, nekat menghapal Al-Quran

Terlepas true story atau tidak. Ane coba bagi dan posting diblog ini. Minimal utk panduan ane sendiri. Panduan atas nasehat dan cara penyampaian kebaikan didalam kisah dibawah ini.

Terharu membacanya, mungkin dikarenakan yg sy alami saat ini. Akan menjalani sunnah rosul yg disebut setengah agama.

Selamat membaca..

Sumber: facebook 'tausyiahku'

===============================

Daud Dzal Aidi, begitulah nama lengkap pemuda tersebut. Daud adalah seorang pemuda yang polos, bisa dikatakan belum banyak terinfeksi pergaulan bebas anak muda zaman sekarang. Daud pun tidak terbiasa bergaul dengan lawan jenis terlalu jauh, hanya sekadar muamalah biasa.
Namun ternyata Daud memendam perasaan terhadap seorang wanita yang pernah ditemuinya sekilas dalam acara seminar remaja Islam di Jakarta, Fatimah namanya, kebetulan Daud menjadi panitianya dan Fatimah yang membaca ayat-ayat suci Al-Quran.
Daud terkesan dengan suara indah dan lengkingan ayat-ayat yang dibacakan oleh Fatimah seakan sudah menguasai betul nagham dalam ilmu tilawah, mulai dari bayati, shoba, hijaz dan sebagainya.
Singkat cerita, tiga bulan kemudian, Daud rupanya sudah ada niat ingin melamar Fatimah, sinyal cinta itu timbul begitu saja, percakapan seperlunya pun hanya melalui pesan singkat sms. “Fatimah, saya mau silaturahim ke rumah orang tua kamu, boleh saya minta alamat lengkapnya, maaf jika kurang berkenan,” setelah berpikir panjang dengan kata-katanya akhirnya sms itu terkirim juga.
“Iya kak, silakan datang saja, rumah orang tua saya yang bercat putih persis di dekat gerai batik, atau tanya saja di mana rumah Bapak Ahmad Mubarak, insya Allah semua tahu.” Balas Fatimah dengan perasaan penuh harap dan cemas.
Setelah mencari sana-sini bersama kawan akrabnya, Amir, Daud pun akhirnya sampai juga di kediaman orang tua Fatimah di bilangan Jakarta. Dengan sedikit perasaan tegang karena pengalaman pertama menghadap orang tua calon belahan jiwa yang ingin dilamar, sebagai sahabat Amir pun langsung menyejukkan suasana agar Daud tetap tenang dan santai.
Lalu, masuklah mereka setelah diizinkan oleh tuan rumahnya, kemudian bersalaman kepada bapak dan ibunya Fatimah, obrolan pun dimulai dan inilah yang terkenang. “Fatimah sudah banyak cerita tentang kamu, ayah pun paham kondisi kejiwaannya ketika dia menyukai sesuatu yang diinginkan, dan ngambeknya dia ketika keinginannya tidak tercapai, tapi dia lebih dewasa dari kakaknya, Aisyah.” Ujar ayah Fatimah dengan penuh wibawa menjelaskan tentang tabi’at dan sedikit kepribadian anak perempuannya itu.
“Iya pak, maksud kedatangan saya pun ke sini untuk silaturahim dan juga ada niat ingin mengkhitbah Fatimah putri bapak, itu pun jika belum ada yang taqdim (mengajukan lamaran), mohon maaf bila kurang berkenan dan terkesan kurang sopan, jika diterima saya akan langsung bicara ke orang tua saya di kampung untuk mengadakan proses khitbah secara resmi", Daud pun menjelaskan maksud kedatangannya hendak melamar Fatimah.
Meski agak sedikit gugup, namun Daud akhirnya merasa plong. “Maaf ya Daud, ibu bukannya tidak percaya sama kamu, ibu cuma khawatir bagaimana nanti kehidupan rumah tangga anak ibu jika kamu sendiri belum memiliki pekerjaan tetap. Sebenarnya ibu pun sudah punya calon untuk Fatimah, putranya kawan ibu yang kebetulan masih satu kantor sama bapak, dia sudah siap segalanya.” Sang ibu langsung memotong pembicaraan karena sudah tahu di mana keluarga Daud tinggal, yaitu di kampung pedesaan.
Daud paham dan sadar bahwa dirinya bukanlah anak orang berada, sebenarnya. Daud pun tidak mengetahui sebelumnya kalau ternyata Fatimah anak seorang pejabat yang disegani. “Iya bu, saya paham kondisi saya sekarang, tapi saya tetap berusaha memiliki pekerjaan yang halal dan baik, tentunya saya pun merasa nyaman dengan pekerjaan itu, tidak gelisah. Saya berterima kasih kepada ibu dan bapak karena sudah menerima saya untuk bersilaturahim, saya mohon maaf jika kehadiran saya mengganggu waktu ibu dan bapak.” Daud pun pamit kepada kedua orang tua Fatimah, sebelum meninggalkan rumah, ayahnya Fatimah menghampiri Daud di pintu gerbang rumahnya, beliau berkata kepada Daud, “Nak, ayah sangat bangga kepadamu atas keberanian kamu hendak melamar Fatimah, ayah sebenarnya setuju saja jika kamu nantinya menjadi imam buat Fatimah, rasanya baru kemarin ayah mengasuh dan mendidiknya, ternyata Fatimah sekarang sudah dewasa. Maaf ya nak, ayah tidak tahu kalau ternyata ibu sudah mempunyai calon suami buat Fatimah. Kamu harus menjadi lelaki yang kuat, tetap berikhtiar, dan tentunya harus menyertakan Allah dalam setiap keputusanmu, ayah doakan kamu mendapatkan calon istri yang terbaik.” Nasihat ayah Fatimah yang cukup bijak. “Terima kasih pak, semoga putri bapak juga mendapatkan calon suami yang bisa membimbing Fatimah dalam mahligai pernikahan yang diridhai Allah SWT.” Daud pun mencium tangan ayah Fatimah sebagai rasa takzdim kepadanya dan langsung berpamitan.
“Kak, maafkan Fatimah dan kedua orang tua Fatimah jika silaturahim kakak jadi kurang berkesan, Fatimah tidak tahu jika ibu ingin menjodohkan Fatimah dengan orang lain. Fatimah akan bicara ke ibu kalau Fatimah tidak mau dijodohkan. Kak, besok Fatimah mau kembali ke KL, melanjutkan kuliah. Doakan Fatimah.” Fatimah langsung mengirimkan sms ke Daud, ia merasa sangat khawatir jika Daud kecewa.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan dan tidak ada yang salah, justru saya yang mohon maaf. Ikuti saja nasihat ibu, beliau tahu mana yang baik untuk anaknya, jangan mengikuti hawa nafsumu. Kakak doakan semoga perjodohan itu bisa membuat kamu lebih fokus dalam belajar karena sudah jelas tujuan hidupnya.” Tutup Daud seraya mendoakan yang terbaik untuk Fatimah.
Hari berganti hari, tepat pada hari Sabtu pagi setelah shalat subuh, terlihat Daud khusuk mendengarkan pengajian tafsir di sebuah masjid raya kota Bekasi yang dipimpin ustad Abdul Hakim. Ustad Abdul Hakim adalah seorang imam besar yang sangat masyhur keahliaannya dalam bidang Tafsir Al-Qur’an, beliau lulusan Al-Azhar Mesir, tak aneh bila setiap ada jadwal kajian masjid selalu penuh, banyak jama’ah dari jauh yang juga sengaja datang untuk mendapatkan pencerahan ilmu dan hikmah darinya.
“ ﻭَﺃَﻧْﻜِﺤُﻮﺍ ﺍﻷﻳَﺎﻣَﻰ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴﻦَ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩِﻛُﻢْ ﻭَﺇِﻣَﺎﺋِﻜُﻢْ ﺇِﻥْ ﻳَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻓُﻘَﺮَﺍﺀَ ﻳُﻐْﻨِﻬِﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣِﻦْ ﻓَﻀْﻠِﻪِ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺍﺳِﻊٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ
Ayat 32 dari surat An-Nur ini adalah anjuran untuk menikah, maksudnya, hendaklah laki-laki yang belum menikah atau tidak beristri atau wanita-wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat menikah. Oleh karena itu, anggapan bahwa apabila menikah seseorang dapat menjadi miskin karena banyak tanggungan tidaklah benar.
Demikian salah satu isi kajian ustad Abdul Hakim yang dibawakan dengan penuh kewibawaan dan retorika yang lantang. Ternyata tema pembahasan tafsir kali ini sangat menyentuh hati dan perasaan Daud, dia terpana dengan penggalan ayat ini, “Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya”.
Setelah pengajian usai, Daud pun langsung menghampiri sang ustad, rupanya dia ingin bicara empat mata seraya mencurahkan masalah dan ujian hidup yang dialaminya agar diberikan solusi yang tepat dan mencerahkan. Akhirnya Daud diajak ke kamar khusus imam di lantai 2 masjid. Dengan panjang lebar Daud bercerita tentang semua hal yang terjadi dalam perjalanan hidupnya, tak terasa air mata Daud pun berlinang.
“Mas Daud, kita tidak memiliki kemampuan untuk mengubah masa lalu dan tidak mampu menggambarkan masa depan dengan gambaran yang kita kehendaki, lalu mengapa kita bunuh diri sendiri dengan bersedih atas apa yang kita tak mampu mengubahnya??!! Bersabarlah dengan skenario Allah yang indah.”
Banyak kata-kata hikmah yang keluar dari lisan keikhlasan sang ustad, akhirnya Daud bertekad ingin bangkit kembali, bangun dari tidur yang panjang. Ada satu azzam Daud yang sungguh luar biasa, yaitu ingin mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an 30 juz dan memohon kepada ustad Abdul Hakim untuk mendengarkan hafalannya sampai tuntas, karena hatinya bergetar ketika sang ustad menyarankan untuk menghafal Al-Qur’an, sebab Al-Qur’an merupakan obat dari berbagai macam penyakit.
Air mata Daud pun langsung terurai menetes ketika ustad Abdul Hakim membacakan sebuah hadist keutamaan seorang penghafal Al-Qur’an yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya: “Dari Buraidah al-Aslami Ra., ia berkata bahwasanya ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Pada hari kiamat nanti, Al-Qur’an akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al-Qur’an akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya, ‘Apakah Anda mengenalku?’ Penghafal tadi menjawab, ‘Saya tidak mengenal kamu.’ Al-Qur’an berkata, ‘Saya adalah kawanmu, Al-Qur’an yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari.
Sesungguhnya, setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan.’ Maka, penghafal Al-Qur’an tadi diberi kekuasaan di tangan kanannnya dan diberi kekekalan di tangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat dibayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya, ‘Kenapa kami diberi pakaian begini?’ Kemudian dijawab, ‘Karena anakmu hafal Al-Quran.’ Kemudian, kepada penghafal Al-Qur’an tadi diperintahkan, ‘Bacalah dan naiklah ke tingkat-tingkat surga dan kamar-kamarnya.’ Maka, ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil).”
Setelah melewati masa-masa sulit dalam menghafal Al-Qur’an, alhamdulillah akhirnya Daud dapat mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun. Ustad Abdul Hakim merasa bangga dan terharu atas kegigihan dan kesungguhan Daud, ustad Abdul Hakim pun memberikan sanad hafalannya ke Daud dan berpesan kepada Daud yang dikutip dalam sebuah hadist diriwayatkan oleh imam Bukhari: “Jagalah Al-Qur’an, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu lebih cepat lepas dari pada seekor onta dari ikatannya.” Sungguh nasihat yang penuh makna.
Setelah itu giliran Daud yang ingin diajak bicara empat mata oleh ustad Abdul Hakim, rupanya ada satu hal penting lagi yang ingin disampaikan sang ustad berkaitan dengan jodoh. “Mas Daud, maaf jika ini menyinggung perasaan mas Daud. Ada orang tua yang datang kepada saya, kebetulan masih jama’ah saya juga, namanya bapak Abdullah, seorang pemimpin perusahaan elektronik di Jakarta, Ph.d lulusan Amerika, dia memiliki 3 putri cantik, dia ingin minta dicarikan calon suami untuk anaknya, kriterianya hanya bisa membimbing putrinya dalam hal Agama, menjadi imam yang baik buat putrinya.”
Dengan penuh kehati-hatian ustad Abdul Hakim menyampaikannya, tapi tetap dengan kekhasan senyuman di wajahnya yang bersinar. “Sebelumnya saya berterima kasih karena ustad sudah menyampaikan hal itu, tapi saya mohon maaf, bukan saya menolak, tapi saya takut tidak bisa mengikuti keinginan yang biasa keluarga dia lakukan, karena saya terbiasa hidup sederhana dan memang dari keluarga sederhana.” Jawab Daud juga dengan rona wajah takut mengecewakan perasaan guru ngajinya itu. “Ya sudah, sekarang kamu istikharah, jangan lupa hal ini diberitahu ke orang tuamu di kampung.” Demikian nasihat Ustad Abdul Hakim kepada Daud.“Insya Allah, ustad.” Tutup Daud.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Akhirnya Daud pun menemukan belahan jiwanya, putri bungsu bapak Abdullah, Nourhan Abdullah. Putri bungsu yang manja dan ceria, lulusan Psikologi Universitas Indonesia, itulah bidadari surga yang dipersunting Daud menjadi istrinya. Kini hidup Daud penuh keberkahan, dia memimpin sebuah pesantren Tahfizh modern di Bogor, yang juga mempelajari sains dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Pesantren Al-Qur’an dan Teknologi Fakhruddin Ar-Razi, Daud mengambil berkah dari nama seorang ulama yang sangat terkenal dan sangat berpengaruh pada masanya itu.
Salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah, “Kalau datang kepadamu seorang laki-laki yang kamu sukai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah. Kalau tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi.” Demikian pesan nabi Muhammad Saw. kepada para orang tua, khususnya yang memiliki putri yang belum menikah.

Saturday, September 10, 2016

Lirik lagu Minang Tiar Ramon - Bungo Larangan

Lai den cinto bungo tumbuah di laman
Sajak putiak kinilah kambang
Nak den raiah bungo ka pamenan
Denai pupuak jo kasiah sayang
Nak den raiah bungo ka pamenan
Denai pupuak jo kasiah sayang

Tapi sayang sayang apo ka dayo
Kini bungo bapaga tinggi
Lah den cubo jangkau tangan den luko
Dek dilingka kawek baduri

Basabalah bungo nan jombang
Alun untuang kasiah batali
Denai tacinto bungo larangan
Kumbang ka hinggok putiah kaki
Denai tacinto bungo larangan
Kumbang ka hinggok putiah kaki

Tapi sayang apo ka dayo
Kini bungo bapaga tinggi
Lah den cubo jangkau tangan den luko
Dek dilingka kawek baduri

Basabalah bungo nan jombang
Alun untuang kasiah batali
Denai tacinto bungo larangan
Kumbang ka hinggok putiah kaki
Denai tacinto bungo larangan
Kumbang ka hinggok putiah kaki

Monday, September 5, 2016

Cinta tidak perlu dibangun oleh lamanya perjalanan

Cinta tidak perlu dibangun oleh panjangnya waktu perkenalan, tapi oleh kesesuaian jiwa.

Kalau jiwanya saling mendamaikan dan tak ingin terpisah, tidak perlu lama-lama.

Justru yang lama, semakin meragukan.

Dan kalau memang serius, akan ada ketegasan untuk menyatukan secara resmi.

Sejuta janji tidak ada nilainya, jika dikatakan oleh orang yang tidak jelas tanggung-jawabnya.

Mario Teguh

Thursday, August 18, 2016

Delapan Manfaat Menulis

Pertama,
sebagai media komunikasi lintas generasi (keyword: prasasti)

Kedua,
Salah satu cara mencegah pikun (keyword: syaraf motorik & bahasa verbal)

Ketiga,
Sharing pengetahuan (keyword: hardcopy dan softcopy)

Keempat,
Sarana belajar mengajar yang efektif (keyword: ilmu ibarat hewan buruan; menulis ibarat tali pengikat)

Kelima,
Sarana menuangkan ekspresi

Keenam,
Penilaian (keyword: penilaian pembaca kepada penulis)

Ketujuh,
Berfungsi sebagai rekaman (keyword: penemuan ilmiah dan teknologi)

Kedelapan,
Menulis untuk ke-abadian (keyword: amal jariyah)

Udahh,
Segini aja dulu yg bisa kecatet 😁

Thursday, July 21, 2016

Ke Manakah Kulabuhkan Hati Ini?

Buku: Ke Manakah Kulabuhkan Hati Ini?
Bab: Menikahlah! Karena Allah Selalu Punya Rencana yang Jauh Lebih Baik
Hal. 104-106

Hati-hati! Nasihat Iblis itu Kelihatan Baik

"Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam sorga)". Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah Termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua" (Q.S. Al A'raf 20-21).

Kelihatannya iblis seperti ingin menolong Adam dan Hawa. Kelihatannya ia baik sekali. Yang terjadi sesungguhnya justeru ia menjebak Adam dan Hawa dengan kekekalan materi. Jebakan yang akan sama miripnya dengan apa yang akan dibisikkan kepada anak cucu Adam. Jebakan yang seolah-olah perintah Allah itu salah. Sebuah jebakan yang menyentuh fitrah kebutuhan manusia. Keabadian, takut tua, tidak ingin sebuah kenangan berakhir, ingin terus merasakan kesenangan dan keindahan. Dia menutup dengan pengakuan bahwa dirinya adalah seorang penasehat.

Jebakan-jebakan Nasehat "Gajimu Ga Akan Cukup, Anak Istrimu Mau Dikasih Makan Apa?

Hmmm bener juga. Gaji cuma 2 juta. Sendiri saja rasanya masih sering terasa kurang. Bagaimana kalau berdua? Itu artinya 2 juta dibagi dua kepala! Belum lagi nanti buat ke perlu dan keperluan lain kalau sudah punya anak. Apa tidak menzalimi namanya? Bukankah Allah tidak suka dengan hamba-hamba yang berperilaku zalim?

Dari dulu sejak Adam dan Hawa ketika iblis menjebak mereka berdua selalu saja esensi jebakan itu sama. Ia akan masuk dari unsur materi dan selanjutnya nasihat dengan pembenaran logika.  Yang semuanya akan kelihatan benar dan baik. Tapi yang terjadi sebenarnya adalah menghindar dari perintah Allah dan melanggar laranganNya.

Nasihat Finansial dari Langit untuk yang Akan Menikah

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu uang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurniaNya. Dan Allah Maha luas (pemberiannya) lagi Maha Mengetahui". (Q.S.AN-NUR: 32).

Berkaitan ayat tersebut, Umat bin Khattab r.a berkomentar, "Aku heran dengan orang yang tidak mau mencari kekayaan dengan cara menikah. Padahal Allah berfirman: Jika mereka miskin, maka Allah akan membuat mereka kaya dengan KeutamaanNya"

"Tiga golongan yang wajib yang Aku (Allah) menolongnya,  salah satunya adalah orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya". (HR. Tarmidzi)

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi Rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar". (Q.S Al-Israa: 31)

Lihatlah janji Allah tersebut, jangan kamu khawatir dengan anak-anakmu apalagi sampai berpikir untuk membunuhya karena kesulitan secara ekonomi.

Karena Allah yang akan memberikan rezki kepada mereka juga kepadamu. Ini adakah jaminan langsung dari Allah SWT untuk rezki anak dan kedua orang tuanya.

Thursday, May 26, 2016

Wahai Anakku, Bagaimana Kabar Ilmumu..?


Wahai putraku, tuntutlah ilmu, dan aku siap membiayaimu dari pintalanku.

Wahai putraku, jika engkau telah mencatat sepuluh kalimat, maka perhatikan:

Apakah engkau bertambah takut, sabar, dan sopan? 

Jika engkau tidak demikian, maka ketahuilah bahwa semua kalimat tadi akan membahayakanmu dan tidak bermanfaat bagimu.” (Riwayat Imam Ahmad).

Perhatikanlah nasihat seorang Ibu kepada putranya di atas. Resapi kata demi kata yang menyertainya.

Bahasa yang sangat sederhana, namun sarat makna.

Nasihat yang lahir dari kekhawatiran akan manfaat ilmu yang anaknya pelajari.

Nasihat yang lahir dari rasa peduli dan kasih sayang yang tinggi,

Nasihat yang lahir dari nilai Islam yang melekat dalam diri,

Hingga tak ingin ananda tercintanya melakukan kesia-siaan dalam waktu hidupnya.



Wahai Ibu...

Ibu di manapun di seluruh dunia,

Bagaimana dengan kita?
Apakah kita ada mengontrol setiap informasi diterimanya?


Tahukah siapa sebenarnya Ibu dengan nasihat luar biasa di atas?
Dialah Ibunda Sofyan  Ats Sauri
Sufyan Ats Tsauri tercatat sebagai adalah salah seorang tokoh ulama teladan dari Kufah,
Imam dalam bidang hadits juga bidang keilmuan lainnya, 
Terkenal sebagai pribadi yang wara' (sangat hati-hati), zuhud, dan seorang ahli fiqih,
‘Ulama yang selalu ingat untuk mengamalkan ilmunya.

Wahai Ibu….
Jangan biarkan kisah ini berlalu begitu saja,

Kini saatnya kita yang bertanya,
Apa kabar ilmumu, anakku?

Manfaatkah dia bagi akhlaqmu?

Karena Nak, Ilmu itu terlihat dari amalmu.



-end-



disadur sebagian dari Parenting Nabawiyah

Tuesday, February 23, 2016

Sejarah Orang Sukses "Menunda Bicara Setahun"

Al Hasan Al Bashri rahimahullah, imam besar Tabi'in didatangi oleh seorang budak. Hari itu sudah memasuki bulan berkah Ramadhan. Budak itu  meminta kepada Al Hasan di masjid untuk ceramah tentang keutamaan membebaskan budak di Bulan Ramadhan.
Al Hasan diam...

Hari kedua, budak itu datang lagi dan meminta hal yg sama kepada Al Hasan.
Al Hasan pun masih diam...

Hari ketiga, budak itu datang lagi dan meminta hal yg sama kepada Al Hasan.
Al Hasan tetap diam...

Dan Ramadhan pun berlalu, tidak sekali pun Al Hasan bicara tentang keutamaan membebaskan budak di Bulan berkah itu.
Setahun berlalu....
Ramadhan datang menyapa kembali.
Malam tarawih pertama, Al Hasan ceramah tentang keutamaan membebaskan budak di Bulan Ramadhan.

Apa hasilnya?
Tak ada satu pun tuan di masjid itu kecuali membebaskan budaknya.
"Imam, mengapa setahun yg lalu aku sudah memintau engkau bicara tetapi baru tahun ini engkau menyampaikannya?"
Imam Al Hasan Al Bashri menjawab: "Tahun lalu aku blm punya uang. Tahun ini aku dikarunia rizki hingga aku bisa membeli budak dan membebaskannya. Baru aku bicara."

Dahsyatnya keteladanan yang mengawali pengajaran...
Menunda setahun lebih baik, daripada hari ini hanya retorika belaka...

sumber: Parenting Nabawiyah, ditulis oleh Ust. Budi Ashari, Lc, sedikit diedit pada judulnya.