Wednesday, October 11, 2017

Judul soal rezeki (lagi 😅)

Dulu  saya pikir sholat dhuha dan membaca zikir itu pembuka pintu rezeki, dan dulu juga saya pikir, Rezeki/Rizki itu berwujud uang,Gaji yg besar, banyak order, banyak job, urusan kerjaan lancar, banyak tabungan di Bank, *punya banyak asset*
*Seperti : Kendaraan,* *Properti disana-sini, dll*
_*Intinya : Harta...*_

Setelah mencari tau apa makna Rezeki / Rizqi dalam Islam (sesuai yg tertera dalam Alquran dan hadits), ternyata saya salah besar...

Ternyata,
🍁 langkah kaki yg dimudahkan untuk hadir ke majelis ilmu, itu adalah rizqi.

🍁 langkah kaki yg dimudahkan untuk shalat berjamaah di masjid, adalah rizqi.

🍁 hati yg Allah jaga jauh dari iri, dengki, dan kebencian, adalah rizqi.

🍁 punya temen2 yang sholeh dan saling mengingatkan dalam kebaikan, itu juga rizqi.

🍁 saat keadaan sulit penuh keterbatasan, itu juga rizqi. Mungkin jika dalam keadaan sebaliknya, justru membuat kita kufur, sombong, angkuh bahkan lupa diri.

🍁 punya orang tua yang sakit2an,ternyata itu adalah rizqi, karena merupakan ladang amal pembuka pintu surga bila Kita tulus Ikhlas mengurusnya.

🍁 Tubuh yang sehat, adalah rizki. Bahkan saat diuji dengan sakit, itu juga bentuk lain dari rizki karena sakit adalah penggugur dosa.

🍁 dan mungkin akan ada jutaan list lainnya bentuk2 rizqi yang kita tidak sadari...

Suami Istri dan anak2 Sehat itu Rizki, anak-anak Anda sekolahnya lancar itu Rizki, hidup Rukun sama Tetangga itu Rizki... Bahkan bila Anda mendapatkan kiriman kajian tausiah keagamaan yg mengajak kebajikan dari Group WhatsApp itu juga Rizki,karena Anda mendapatkan Ilmu darinya...

Justru yang harus kita waspadai adalah ketika hidup kita berkecukupan, penuh dengan kemudahan dan kebahagiaan, padahal begitu *banyak hak Allah yang belum mampu atau tidak kita tunaikan...* 😔

_*Mari sebarkan kebaikan dan nikmati Rizqi + Rizqi yg Allah amanahkan Kepada Kita*_

*ۚ ﻭَﻣَﺎ ٱﻟْﺤَﻴَﻮٰﺓُ ٱﻟﺪُّﻧْﻴَﺎٓ ﺇِﻻَّ ﻣَﺘَٰﻊُ ٱﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ*

*... Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al-Hadid - 57:20)*

*#Semoga Bermanfaat*
*HS*

Sunday, September 3, 2017

*_Tak Usah Sedih, Cintaku…_*

*_HomeArtikelSuami_*

*_Tak Usah Sedih, Cintaku…_*

*Senin, 08 April 2013 15:35*

*_Ditulis oleh Budi Ashari_*

*Tak Usah Sedih, Cintaku…*

 

_Karena cinta, terkadang harus bersedih. Cinta pasti membuatnya mampu bertahan. Tetapi kita tetap manusia. Ada batas. Air mata pun tertumpahkan untuk menyejukkan hati. Dan untuk bertahan dalam cinta._

_Inilah kisah dan tumpahan hati ibunda kita ummul mu’minin, istri Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dia termasuk istri terakhir yang dinikahi Rasul sebelum Maimunah._

_Rasul menikahinya pada tahun 7 H, setelah muslimin memenangkan pertarungan melawan Yahudi di benteng-benteng Khaibar. Dia ada di antara tawanan. Dia anak salah satu pembesar Yahudi. Dia satu-satunya istri Nabi yang berasal dari keturunan Yahudi._

*_Shofiyyah binti Huyay radhiallahu anha._*

Yuk, buka telinga kita untuk penuturan ibunda kita Shofiyyah tentang kisahnya. Shofiyyah yang dikenal lembut itu ingin membagi rasa hatinya di tengah para istri Nabi yang lain.

*Berikut kalimat-kalimat beliau,*

_“Aku memilih Allah, rasul dan Islam. Rasul shallallahu alaihi wasallam pun membebaskan aku dari perbudakan dan kemudian menikahiku dengan mahar pembebasanku itu. Ketika beliau ingin kembali ke Madinah, para sahabat berkata:_

Hari ini kita akan tahu apakah ia istri atau budak. Jika ia istri, Rasul akan menghijabinya. Kalau tidak berarti dia budak.

Ketika beliau hendak berangkat, beliau memerintahkan untuk menutupinya dan Shofiyyah pun ditutupi.

Maka diketahuilah bahwa aku adalah istrinya. Kemudian beliau mendekat ke untanya dan menyodorkan pahanya untuk aku naik. Shofiyyah merasa ini sangat istimewa, dia pun meletakkan pahanya di atas paha beliau kemudian naik ke unta.

Aku mendapatkan dari istri-istri beliau (hal-hal yang kurang nyaman).

Mereka membanggakan diri mereka di atas diriku dan berkata: *Wahai putri Yahudi.*

Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berusaha menenangkan diriku dan memuliakan aku.

Suatu hari beliau menemuiku, sementara aku sedang menangis. Beliau bertanya: Ada apa denganmu?

Aku menjawab: Istri-istrimu membanggakan diri mereka di atas diriku dan berkata: *Wahai putri Yahudi.*

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam marah dan beliau berkata:

Jika mereka berkata kepadamu seperti itu dan membanggakan diri maka katakan:

*_Bagaimana kalian lebih baik dariku; ayahku Harun, pamanku Musa dan suamiku Muhammad!_*

*(Lihat Maghazi Al Waqidi dan Uyunul Atsar Ibnu Sayyidinnas)*

_Jazakumullah Ya Rasulallah._

_Engkau telah mengajari kami tentang cinta. Biarlah orang lain belajar cinta dari para pakar cinta di dunia ini._

Tetapi kami belajar cinta darimu. Dan kami akan terus belajar darimu.

Kali ini, engkau ajari kami tentang cinta yang mengharuskan kita bertahan. Tentang cinta yang harus menghibur.

Jelas ibunda kami, Shofiyyah bersedih.

Ia seperti terasingkan dalam rangkaian keluarga muliamu. 

Ia hadir belakangan. Setelah semuanya padu.

Dia hanya orang baru. Seperti tersingkirkan.

Bagaimana tidak, ia hanyalah tawanan perang yang seharusnya menjadi budak.

Tetapi karena memilih untuk masuk Islam, maka engkau membebaskannya dan menikahinya dengan mahar pembebasan itu.

Dan dia berasal dari keturunan Yahudi, masyarakat hina yang memusuhimu.

Tapi kami telah belajar banyak darimu Ya Rasulullah –jazakumullah athyabal jaza’-.

Bagaimana menghibur hati cintamu agar tak larut dalam sedih.

Engkau mengajari kami bagaimana mendinginkan luka hatinya.

Engkau menunjuki kami cara menghapus air mata kepedihannya.

Agar ia tak tersiksa dalam cinta. Agar ia tahu bahwa ia mencintai orang paling istimewa dalam hidupnya.

Engkau tunjukkan di hadapan semua sahabatmu betapa mulianya cintamu yang satu ini. Pahamu yang mulia, engkau sodorkan untuk diinjak oleh kakinya. Betapa mulia dan lembut hatimu. Ia naik ke unta. Dan ia pun naik di mata para sahabatmu.

Tapi bagaimana dengan kalimatyang tak nyaman didengarnya. Masih disebut-sebut: _Hai anak Yahudi._

_Yang membuatnya pedih adalah, ia istrimu. Ia telah dengan setulus hati memilih Allah, dirimu dan Islam ini._

Dan lagi, jazakumullah Ya Rasulallah

Kami sekarang mengerti. Engkau datang hendak menghapus air mata kepedihannya.

Jika mereka berkata kepadamu seperti itu dan membanggakan diri maka katakan:

*_Bagaimana kalian lebih baik dariku; ayahku Harun, pamanku Musa dan suamiku Muhammad!_*

Subhanallah, cukup Ya Rasulullah.

Kami mengerti.

Kami akan segera pulang ke rumah.

*Dan berkata: Tak usah sedih, cintaku...*

*Karena kamu orang yang istimewa dalam hidupku...*

 
*Ustadz Budi Ashari Lc.*

             📚📚📚

Saturday, August 12, 2017

🌸 *HIKMAH ISTRI TAAT KEPADA SUAMI* 🌼

بِســــْمِ اللّهِ الرَّحْمــــٰنِ الرَّحِيْــــم ِ


📝 Rifaqun Ashfiyaa' bin Aunur rofiq bin ghufron bin hamdani. LC

Isteri taat kepada suami sangat penting untuk mewujudkan kerukunan rumah tangga, bukankah diantara sebab terjadi perceraian karena isteri tidak taat kepada suami, atau istri ingin mengatur suami?.

Wahai isteri, insya Allah suamimu adalah pria yang kamu senangi , jika kamu ingin hidup bahagia di dunia dan akhirat, ketahuilah suamimu adalah pemimpimu, silahkan baca surat An-nisa’ ayat no:34 Taati dia selama tidak memerintah yang haram, sampaikan udzurmu bila kamu tidak mampu, jika kamu bersabar mentaati perintahnya Allah azza wa jalla akan membalasnya dengan surga.

Bukankah Rasulullah shollohu alaihi wasallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dari Abdur rahman bin Auf rodliallhu anhu :

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ »

```"Apabila wanita itu shalat lima waktu, berpuasa pada bulan ramadhon, dan taat kepada sauminya, dikatakan kepadanya, silahkan kamu masuk sorga melewati pintu yang kamu sukai [1]"```

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi bersumber dari Abu Hurairah rodliallhu anhu Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abu Hurairoh rodliallohu anhu Rasulullah shollollaahu alaihi wasallam bersabda :

« لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا »

```"Seandainya aku menyuruh orang agar sujud kepada orang tentu aku menyuruh isteri agar sujud kepada suaminya [2]"````

Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullahberkata: ```Apabila wanita sudah menikah, maka suaminya lebih berhak dari pada ayahnya, isteri lebih wajib mentaati suami dari pada ayahnya [3]```

Imam Bukhari didalam shahihnya meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah rodliallhu anhu   Rasulullah shollollaahu alaihi wasallam bersabda :

« لاَ تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ »

```"tidak boleh berpuasa (sunnah ) sedangkan suaminya dirumah kecuali dengan izinnya [4]"```

Karena sangat mulianya taat kepada suami, isteri yang hendak beribadah puasa sunnah pun harus izin kepada suami bila suami di rumah. Inilah fungsi suami sebagai pemimpin, dia harus ditaati agar isteri tetap mulia

Suami akan merasakan bahagia juga bila isteri memenuhi kebutuhan suaminya, karena memenuhi seruan suami, isteri mendapatkan pahala juga, sebalikanya jika isteri menolak, padahal tidak ada udzur syar’i, malaikat melaknatnya sampai suami padam marahnya. Imam Muslim meriwayatkan hadits bersumber dari Abu Hurairah rodliallhu anhu Rasulullah shollollaahu alaihi wasallam bersabda :

« إِذَا بَاتَتِ الْمَرْأَةُ هَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ »

```"Apabila seorang istri bermalam meninggalkan atau menjauhi tempat tidur suaminya maka malaikat akan melaknatinya sampai pagi. [5]"```

Isteri hendaknya betah dirumah, agar dia bahagia, hendaknya tidak keluar kecuali atas izin suaminya. Ibnu Rajjab rahimahullah berkata: ulama’ sunnah bersepakat bahwa wanita tidak boleh keluar pergi ke masjid bila suami tidak mengizininya [6]

Syaikh bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah berkata: ```"menurut asal, wanita tempat tinggalnya dirumah, karena Allah azza wa jalla menyifati mereka tinggal dirumah silahkan baca surat al-Ahzab :33. Inilah ketetapan Allah azza wa jalla untuk kebahagiaan wanita, sedangkan mereka boleh keluar apabila dalam keadaan terpaksa , oleh karena itu ketika dibolehkan keluar hendaknya tidak bersolek diri seperti wanita jahiliyah dan hendaknya tidak tercium bau aromanya . [7]"```

Isteri hendaknya pandai menghibur suaminya

Imam Nasai rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Huroirah rodliallhu anhu dia berkata : Rasulullah shollollaahu alaihi wasallam pernah ditanya: wahai Rasulullah siapakah wanita yang paling baik, lalu beliau menjawab :

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

```"Wanita yang menyenangkan suaminya bila melihatnya, mentaati perintah suaminya, dan tidak menyelisihinya pada jiwa dan harta dengan sesuatu yang dibenci[8]"```

Isteri hendaknya bersabar ketika suami mengalami kesulitan mencari rizki, hendaknya menjadi isteri yang qonaah , karena apabila wanita menikah tujuannya ingin mencari pahala, insya Allah surga imbalannya.   Allah azza wa jalla berfirman:

وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآَخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

```"dan jika kamu sekalian (isteri ) menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, Maka Sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.[9]"```

Bersabarlah ketika suami marah, dan mencari penyebabnya, mungkin isteri yang salah, karena(^_^) tutur kata yang buruk, kurang sopan atau tidak mengurusi anak. Jauhkan dirimu dari sifat yang kurang adab . Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam tatkala ditanya oleh wanita; mengapa wanita banyak masuk neraka? Beliau r menjawab :

تَكْفُرْنَ العشيرَوتكثرن اللعن

```"Karena kamu mengingkari kebaikan suami, dan kamu sering mencaci suami"``` [10]

Jadilah wanita yang dermawan, hilangkan sifat bakhil dan kikir, sifat tamak dan rakus dunia, sehingga dirimu menjadi ahli surga.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori bersumber dari Aisyah rodliallohu anha Rasulullah shollollaahu alaihi wasallam bersabda :

إِذَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ فَلَهَا أَجْرُهَا وَلِلزَّوْجِ بِمَا اكْتَسَبَ وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ

```“Jika seorang wanita (isteri) berinfaq dari makanan rumahnya dan bukan bermaksud menimbulkan kerusakan maka baginya pahala dan bagi suaminya (pahala) dari yang diusahakannya dan juga bagi seorang penjaga harta/bendahara akan mendapatkan pahala seperti itu”.``` [11]

Wahai saudariku! jika ini semua kamu kerjakan dengan baik, kami yakin kebahagianmu bukan hanya di dunia, kamu menjadi wanita mulia, keturuanmu pun insya Allah menjadi anak yang shalih dan shalihah, tempat kembalimu surga insya Allah.

[1] (HR. Abu Nuem fil Huliyah . dishohihkan oleh Albany al-Misyakat 2/239 no:3254)
[2]HR Tirmidzi 5/1 Dishahihkan oleh Imam Albani
[3] HR Bukhori Bab shoumil mar’ah .Taudhihul ahkam 3/199
[4] HR Bukhori Bab shoumil mar’ah .Taudhihul ahkam 3/199
[5] Shahih Muslim No.2594
[6] Fathul Bari li ibni Rajjab 6/140 dan ini adalah pendapat Imam Syafii, Ibnul mubarok, Imam Ahmad dan lainnya
[7] Maalimus Tsaqofatil Islamiyah :274
[8] HR Nasai 6/28 , dishohihkan oleh Al-Bany , lihat silsilahshohih no 1838 4/337
[9] QS. Al-Ahzab (33) :29
[10] HR Shahih Ibnu Hibban 8/111
[11] HR Bukhori No. Hadist: 1350

Copas dari fb Amahnya Ubaidah.

#IstriTaatSuami

🔲🔳🔲
Sumber: Lentera Dakwah

📨 Diposting dan disebarkan kembali oleh Maa Haadzaa

🕌 Silahkan bergabung untuk mendapatkan info seputar kajian dan atau ilmu sesuai sunnah
Melalui:
Website https://www.maahaadzaa.com
Join Channel Telegram https://goo.gl/tF79wg
Like Facebook Fans Page https://goo.gl/NSB792
Subscribe YouTube https://goo.gl/mId5th
Follow Instagram https://goo.gl/w33Dje
Follow Twitter https://goo.gl/h3OTLd
Add BBM PIN: D3696C01
WhatsApp Group khusus *Ikhwan* https://chat.whatsapp.com/Cm7bOEaYArdAo55VDEi5UL
WhatsApp Group khusus *Akhwat* https://chat.whatsapp.com/L5p0vptxZyZ6UfuHGo814w

Silahkan disebarluaskan tanpa merubah isinya. Semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita.
Jazaakumullahu khairan.

Saturday, August 5, 2017

Menakar makar Aswaja Terhadap Dakwah Salafiyah di Indonesia


 by: Abu Afifah.

Dinamika dakwah Islam di tanah air dalam tiga dekade terakhir diwarnai dengan fenomena pesatnya perkembangan dakwah salafiyah yang bertujuan mengembalikan pemahaman umat Islam kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan manhaj salafus saleh.
Fakta demikian ternyata mengundang pobia luar biasa dari kalangan tradisionalis atau yang menyebut diri sebagai *Aswaja,* di mana praktek-praktek keislaman mereka yang sarat pencampuradukan dengan budaya lokal mendapatkan koreksi total dari kalangan salafi.

*Perlu ditegaskan, makna aswaja dalam term kaum tradisionalis bukanlah satu pengamalan beragama yang meneladani Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam akidah maupun ibadah sebagaimana definisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebenarnya, melainkan satu model baru keislaman yang memadukan berbagai unsur semisal mazhab ilmu kalam Asya’irah, tasawuf, dan ritual-ritual amaliah yang berasal dari warisan kultur Hindu-Budha.* Maka tak heran, berkembangnya dakwah Salafiyah dari Aceh hingga Papua mendatangkan kegelisahan dari kalangan tokoh aswaja NU yang selama ini terlanjur menikmati kedudukan begitu tinggi di tengah-tengah masyarakat ‘santri’.

Sikap pobia akut kalangan NU terhadap dakwah salafiyah yang dilabeli *Wahabi* itu, sejatinya sudah tergambar jelas dalam lembaran sejarah seputar berdirinya ormas tersebut. Sebagaimana diketahui, NU bermula dari satu tim panitia “Komite merembuk Hijaz” yang didirikan guna merespon peperangan kaum Salafi di Saudi Arabia yang berakhir dengan terusirnya Syarif Husein dari Makkah pada 1924. Kemenangan Abdul Aziz Al-Saud yang disebut berhaluan *Salafi* atas Syarif Husein yang berpaham *suffi* merupakan pukulan telak bagi kalangan tradisionalis di manapun termasuk di wilayah Hindia-Belanda. Sebab, dengan jatuhnya Makkah ke tangan Salafi, sama artinya dengan hilangnya kemerdekaan bagi kaum sufi-tradisionalis untuk menjalankan praktek amalan-amalan khas quburiyun di tanah suci.
Pada saat bersamaan, di seantero Nusantara juga tengah berkembang dakwah pembaharuan yang dimotori oleh Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persis dengan inti dakwahnya memberantas takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC) serta memerangi sikap taklid buta terhadap kyai.

Fakta semakin gencarnya dakwah pembaharuan Islam di tanah air, dan kembali berkuasanya kaum Salafi di tanah suci itulah yang mendorong inisiatif para tokoh Islam tradisionalis untuk mendirikan satu wadah bersama guna melestarikan corak keberagamaan mereka. Tak cukup dengan berserikat, para pendiri ormas NU juga merasa perlu untuk merumuskan *“bagaimana Islam yang benar versi mereka”* hingga lahirlah istilah Aswaja untuk membungkus hakikat keberagamaan warga nahdliyin yang sarat akulturasi dengan budaya pra-Islam. Dan buat melegitimasi sikap pengultusan terhadap kyai yang memang sudah umum berlaku di kalangan nahdliyin, mereka dengan bangga mengemukakan dalil “Ulama adalah ahli waris para Nabi”. *Tentu saja tafsir ulama versi aswaja NU adalah kyai yang sejalan dengan model beragama mereka, seperti demen tahlilan, yasinan, mauludan atau tawashulan dengan perantara arwah para wali.* Adapun ulama di luar golongan mereka, kendati selevel *ahli hadis abad moderen Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani atau Syaikh Ibnu Bazz* pun ditolaknya karena fatwa-fatwanya yang justru mengoreksi cara beragama mereka.

*NU & Politik*
Jika kaitannya dengan perpolitikan nasional, sikap NU memang berubah-ubah. Dalam Pemilu 1955, NU yang menjelma sebagai sebuah partai politik turut serta memperjuangkan dasar negara Islam bagi republik ini. Selanjutnya, NU justru duduk mesra bersama-sama kaum nasionalis dan komunis dalam mengusung paham Nasakom. Pada Pemilu 1977, NU menyatakan berfusi dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sepuluh tahun berselang, NU malah berperan sebagai penggembos PPP dengan keputusannya lewat muktamar Situbondo 1984 yang menyatakan kembali ke khittah 1926, tidak berpolitik. Realitanya, kembali ke khittah 1926 ternyata bukannya tidak berpolitik, tetapi justru berpolitik dengan menggembosi PPP. Pasca tumbangnya rezim Orde Baru, kembali ke khittah 1926 yang mereka dengung-dengungkan pun dibuang lagi. PBNU memfasilitasi lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sejumlah tokoh NU yang tidak sejalan dengan platform PKB, turut pula membidani lahirnya beberapa partai seperti Partai Nahdlatul Umat (PNU), Partai Kebangkitan Umat (PKU), dan Partai Solidaritas Uni Nasional Indonesia (Partai SUNI). Terkait lahirnya sejumlah parpol yang saling mengklaim sebagai partainya warga NU di awal reformasi, Gus Dur pernah berkomentar, *“NU itu ibarat ayam, dari pantatnya keluar telur dan tai ayam. Yang telur itu PKB, yang partai lain itu tai ayam.”* 😀

Nah, bila untuk soal politik NU bersikap pagi kedele sore tempe alias mencla-mencle, lain halnya dengan sikap mereka terhadap dakwah tauhid dan sunnah. Semenjak awal berdirinya hingga hari ini, NU selalu berada di garda terdepan dalam menentang setiap gerakan pemurnian Islam. *Stigma Wahabi* seakan menjadi jurus pamungkas membangun opini publik buat membangkitkan kesan horor dan radikal terhadap dakwah tauhid dan sunnah. Hari ini NU mengklaim sebagai ormas Islam yang paling toleran, sampai-sampai rela mengerahkan ribuan anak mudanya yang tergabung dalam banser untuk mengamankan perayaan malam Natal. Demi mendapatkan sebutan pluralis, tokoh-tokoh NU pun lantang mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang intinya membela eksistensi sekte-sekte menyimpang di tanah air. Demi mendapatkan predikat nasionalis dan pancasilais, sejumlah kyai NU rela blusukan keluar masuk kelenteng atau gereja. Namun semangat ‘toleran, pluralis, nasionalis, dan pancasilais’ yang selalu mereka bangga-banggakan, tiba-tiba berubah 180 derajat kala mereka berhadapan dengan kalangan salafi.

Beragam cara mereka gunakan untuk membendung dan mendiskreditkan dakwah Salafiyah. Akan tetapi, semakin dibendung, dakwah Salafiyah justru makin tak terbendung. Semakin difitnah, justru semakin banyak yang tercerahkan dengan dakwah Salafiyah. Pada tahun 2009 misalnya, rumah sejumlah penganut salafi di Gerung, Lombok Barat diserang warga yang masih jahil dengan Sunnah. Kejadian ini bukan kali pertama terjadi di provinsi NTB. Namun dengan peristiwa tersebut, yang kemudian diliput luas oleh sejumlah media nasional justru menyebabkan masyarakat semakin familiar dengan istilah *“Salafi-Wahabi”* dan ujung-ujungnya mereka penasaran mencari tahu, apa sih sebetulnya *salafi-wahabi* itu.
Munculnya radio Rodja dan Rodja TV sebagai salah satu media dakwah salafi yang memantik reaksi para tokoh sufi-tradisionalis untuk memperingatkan jamaahnya agar tidak mendengarkan dan menonton siaran tersebut, rupanya malah menjadi iklan gratis yang menyebabkan radio Rodja dan Rodja TV kian dikenal luas. Upaya-upaya sejumlah kyai NU yang berusaha menyebarkan opini di tengah masyarakat soal sesatnya ajaran salafi-wahabi justru berujung pada turun tangannya MUI meneliti gerakan tersebut, dan hasilnya MUI Jakarta Utara dengan tegas menyatakan “Salafi bukan aliran menyimpang”. Begitu pula opini public (baca penyesatan public) yang coba dibangun Said Agil Siraj ketum PBNU yang alumni Saudi, bahwa ideology Salafi merupakan akar dari terorisme di tanah air pun mentah di tengah jalan.

Nyatanya, dalam beberapa tahun terakhir dakwah salafiyah justru semakin berkembang di kalangan aparat pemerintahan. Bahkan tak jarang para da’i salafi memberikan tausiyah di masjid Mabes Polri, masjid Polda Metro Jaya, atau masjid PTIK. Teranyar, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) malah mendatangkan Ulama salafi murid Ulama khibar Muhadits abad 20 al Imam Syaikh Muhammad Nasiruddin al Albani, yakni Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi untuk berdakwah kepada para napi terpidana teroris agar kembali kepada pemahaman Islam yang haq. Mungkin masih lekat pula dalam benak kita, tatkala di penghujung 2009 taklim Ustadz Zainal Abidin, da’i salafi mantan santri tambak beras di Masjid Amar Ma’ruf Bekasi yang membedah buku Jihad Melawan Teror diserang sejumlah orang yang ditengerai sebagai simpatisan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT).

Dengan demikian, jelas sudah beda antara salafi dengan takfiri. Kaum salafi menyeru kepada tauhid, sunnah, dan pemahaman sahabat Nabi yang di dalamnya termasuk ketaatan terhadap pemerintah kaum Muslimin. Sedangkan jamaah takfiri meyeru kepada pengkafiran terhadap pemerintah RI serta hasutan untuk membenci atau bahkan memberontak terhadap pemerintah.

● *Latar belakang kebencian*
Lantas, apa yang menyebabkan kyai aswaja NU begitu membenci salafi dan ketakutan dengan pesatnya perkembangan dakwah salafiyah..?
Apabila kita mencermati sejarah dakwah para Rasul, niscaya akan dijumpai bahwa kelompok yang paling keras menentang dakwah tauhid para Rasul tersebut adalah mereka yang selalu menamakan dirinya sebagai “pembela ajaran nenek moyang”. Begitu pula kita dapati hari ini, yang paling keras menentang dakwah salafiyah yang mengajak umat Islam untuk memurnikan peribadatan kepada Allah, adalah kelompok yang menamakan dirinya sebagai “pemelihara tradisi nenek moyang.” Selanjutnya, berkembangnya dakwah salafiyah di tengah masyarakat sama artinya dengan terbongkarnya klaim dusta Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang selama ini mereka gembar-gemborkan.

Nyatanya, yang mereka praktekkan bukanlah akidah dan amaliah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya, *melainkan amalan-amalan Ahli bid’ah wal firqah, entah itu firqah Asy’ariyah, shufiyah, quburiyah, batiniyah, filsafat, hingga kejawen yang saling bercampur aduk. Dan terakhir, tentu saja dengan tersebarnya pemahaman salafiyah di tengah masyarakat akan menyebabkan jatuhnya status social kyai tradisionalis yang selama ini menikmati sikap pengultusan luar biasa dari kaum santri maupun masyarakat awamnya, dan ujung-ujungnya turut pula mematikan income sebagian kyai yang juga merangkap profesi sebagai; "dukun berjubah".*

Sekiranya para kyai aswaja NU mau menanggalkan hawa nafsu dan sikap fanatisme yang membabi buta terhadap tradisi leluhur mereka, niscaya mereka bakal mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para dai salafi yang telah meluruskan makna Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang selama ini mereka pahami secara keliru.##

Sumber:
Kompasiana
===========

Tuesday, August 1, 2017

E KTP

Buat Abang/Kakak, Adik, Sanak-saudara,
dan seluruh handai taulan

Mari kita lihat KTP Elektronik (KTP-El) masing-masing.
Perhatikan kolom BERLAKU HINGGA. Jika terdapat ANGKA tanggal berlaku, tidak perlu takut/khawatir, sekalipun tanggalnya sudah KADALUWARSA, MASIH TETAP BERLAKU, bahkan SEUMUR HIDUP.

Oleh karena sejak diundangkannya Undang-Undang No. 24 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 23 Thn 2006 tentang Administrasi Kependudukan, bahwa :
Pasal 64, Ayat (7) a. KTP elektronik untuk WNI masa berlakunya SEUMUR HIDUP.

Pasal 64 ayat (8) dalam hal terjadi PERUBAHAN elemen data (nama, tanggal lahir, status kawin, agama, pekerjaan, alamat dan/atau wilayah), RUSAK, atau HILANG, Penduduk pemilik KTP-el wajib melaporkan kepada Instansi Pelaksana (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil) untuk dilakukan PERUBAHAN atau PENGGANTIAN.

Pasal 101 huruf b. KTP-el yang sudah diterbitkan sebelum Undang-Undang ini ditetapkan BERLAKU SEUMUR HIDUP.

Semoga bermanfaat.

Tuesday, July 18, 2017

*Do’a Qunut*

أَللَّـهُمَّ اهْدِناَ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعاَفِناَ فِيْمَنْ عاَفَيْتَ وَتَوَلَّناَ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَباَرِكْ لَناَ فِيْماَ أَعْطَيْتَ وَقِناَ بِرَحْمَتِكَ شَرَّ ماَقَضَيْتَ , فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَيُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَيَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَيَعِزُّ مَنْ عاَدَيْتَ تَباَرَكْتَ رَبَّناَ وَتَعاَلَيْتَ فَلَكَ الحَمْدُ عَلَى ماَقَضَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ , وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Artinya :
“Ya Allah, berilah kami petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah kami kesehatan seperti orang-orang yang Engkau beri kesehatan, pimpinlah kami bersama-sama dengan orang-orang yang Engkau pimpin, berilah keberkahan pada segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami, lindungilah kami dari kejahatan yang Engkau tentukan, karena sesungguhnya Engkau yang menentukan dan tidak ada yang melebihi ketentuan Engkau, sesungguhnya tidak akan hina orang-orang yang Engkau beri kemuliaan, tidak akan mulia orang-orang yang Engkau musuhi, maha berkah Engkau, maha luhur Engkau, segala puji bagai Engkau, atas apa yang Engkau tentukan, aku memohon ampunan dan kembali kepada Engkau, semoga Allah memberi rahmat, berkah dan salam kepada Nabi Muhammad berserta keluarga dan sahabatnya semua, amien”.

Catatan PENTING
*Hukum baca qunut sunnah Ab'ad /Sunnah muaqadah.
*Kalimat sanjungan yaitu mulai dari Fainnaka Taqdi sampai dengan Wa Atuubu Ilaek dalam shalat berjama’ah tidak diamini. oleh makmum, akan tetapi dibaca masing-masing saja..
ingat !, setelah qunut tidak dianjurkan mengusap muka...

By. Ustadz Ahmad Daeroby (Penterjemah Kitab Kuning)

================
Haditsnya shohih.
Rasulullah Saw senantiasa melakukan QUNUT pada shalat subuh sampai Beliau meninggalkan dunia”

Rujukan kitab haditsnya

(HR. Ahmad, Musnad Ahmad, vol. III, hal 162; Abdurrazaq, Mushannaf Abdurrazzaq, vol. III, hlm. 110; Daraquthni, Sunan Daruquthni, vol. II, hlm. 39; dan disebutkan oleh Al-Haitsani di dalam Majma’ Al-Zawaid, vol. II, hlm. 139; serta Hakim di dalam Al-arba’in, dan dia berkata, Hadits shahih; para periwatnya seluruhnya adalah orang-orang yang tsiqah. (perawi hadist orang yang kokoh dan terpercaya dalam memegang amanat.)

Allah mengetahui segalanya

Tuesday, July 4, 2017

*_Yang Harus Disiapkan ketika Hendak Menikah_*

_Assalamualaikum._

_Ustadz, ana mau tanya…Insha Allah sebulan lagi ana akan menikah..kira2 sebagai seorang calon pengantin apa yg harus ana persiapkan Ustadz….syukron kaatsiiron buat jawabanx…_

_Betaf Frianto_ _<anf***f@gmail.com>_

*Jawaban:*

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Inilah yang membedakan muslim sejati dengan umat lainnya. Seorang muslim sejati, dia akan mendasari seluruh aktivitasnya dengan ilmu. Sehingga dia paham aturan yang benar, agar bisa menempatkan diri pada sikap yang benar.

Di surat al-Fatihah, Allah menyebutkan 3 golongan manusia.

▶ *Pertama,* golongan yahudi, itulah golongan manusia yang dimurkai (al-Maghdhub ‘alahim). Mengapa dimurkai? Karena mereka paham aturan, namun sengaja melanggarnya.

▶ *Kedua,* golongan nasrani, itulah golongan yang sesat (ad-Dhaallin). Mengapa mereka dianggap sesat? Karena mereka beramal tanpa panduan ilmu dan aturan.

▶ *Ketiga,* golongan mukmin yang selamat. Merekalah kelompok yang mendapatkan kenikmatan dari Allah (al-Ladzina an’amta ‘alaihim). Karena mereka menggabungkan ilmu dan amal.

Dan kita berdoa kepada Allah, agar dimasukkan dalam golongan yang ketiga.

Untuk itu, kami memberikan apresiasi yang baik bagi penanya. Bertanya tentang ilmu yang hendak dijadikan bekal dalam membangun keluarga sejahtera.

Setiap manusia ingin bahagia. Termasuk mereka yang hendak menikah. Bahkan menikah menjadi salah satu puncak kebahagiaan manusia. Di saat yang sama, banyak orang yang takut kehilangan kebahagiaan itu ketika telah menikah. Takut dikhianati, takut dikecewakan, takut tidak sabar, takut tidak bisa membahagiakan pasangannya, takut tidak bisa mencintai, atau takut tidak dicintai, dst. Terlebih para wanita. Kekhawatiran itu umumnya lebih tinggi dari pada yang dirasakan lelaki. Kandas di tengah jalan, dia harus kehilangan gelar ‘gadis’ yang menjadi kebanggaannya. Namun ini bagi mereka yang komitmen dengan aturan syariah, bayang-bayang ini akan sedikit berkurang.

Ada beberapa nasehat yang bisa dilakukan, agar kebahagiaan anda semakin berkah dan anda tidak dihantui dengan perasaan takut kehilangannya,

▶ *Pertama, Tawakkal kepada Allah.*

Allah memberi jaminan bagi siapa saja yang bertawakkal kepada-Nya, maka Dia akan mencukupinya,

‎وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

_“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia akan memberi kecukupan baginya.”_ (QS. at-Thalaq: 3)

Kedepankan perasaan tawakkal, setiap anda menghadapi kenyataan yang tidak pasti. Pasrahkan kepada Allah, dalam setiap upaya untuk kebahagiaan anda.

Dan inilah yang diajarkan oleh para sahabat, terutama bagi orang yang tidak PD ketika menikah.

Abu Said mantan budak Abi Usaid menceritakan,

Aku menikah, sementara aku berstatus seorang budak. Akupun mengundang beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzaifah. Ketika datang waktu shalat, mereka mempersilahkan diriku untuk menjadi imam. Seusai shalat, mereka mengajariku,

‎إذا دخل عليك أهلك فصل ركعتين ثم سل الله من خير ما دخل عليك وتعوذ به من شره ثم شأنك وشأن أهلك

_Apabila kamu bertemu pertama dengan istrimu, lakukanlah shalat 2 rakaat, kemudian mintalah kepada Allah kebaikan dari semua yang datang kepadamu, dan berlindunglah dari keburukannya. Kemudian lanjutkan urusanmu dengan istrimu._ (HR. Ibn Abi Syaibah 30352 dan dishahihkan al-Albani dalam Adab az-Zifaf).

Dalam riwayat lain, Syaqiq menceritakan,

Ada lelaki namanya Abu Hariz. Dia mendatang Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu dan mengadukan kekhawatirannya ketika menikah.

_“Saya menikahi wanita gadis masih sangat muda. Saya khawatir, dia tidak suka padaku.”_

Nasehat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu,

‎إن الإلف من الله والفرك من الشيطان يريد أن يكره إليكم ما أحل الله لكم فإذا أتتك فأمرها أن تصلي وراءك ركعتين، وقل : اللهم بارك لي في أهلي وبارك لهم في اللهم اجمع بيننا ما جمعت بخير وفرق بيننا إذا فرقت إلى خير

_Sesungguhnya rasa cinta itu dari Allah, dan kebencian itu dari setan. Setan menginginkan untuk menanamkan kebencian terhadap apa yang Allah halalkan._

Jika kamu bersama istrimu, perintahkan dia untuk shalat dua rakaat di belakangmu, dan bacalah,

‎اَللَّهُمَّ بارِكْ لي في اَهْلى، وَ بَارِكْ لَهُمْ فِيَّ، اللَّهُمَّ اجْـمَعْ بَـيْنَـنَا مَا جَـمَعْتَ بِـخَيْرٍ وَفَرِّقْ بَـيْنَـنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ

_Ya Allah, berkahilah istriku untukku, dan berkahilah diriku untuk istriku. Ya Allah kumpulkanlah kami, selama kumpul itu dalam kebaikan. Dan pisahkanlah kami jika perpisahan itu untuk kebaikan._

(HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf 10460 dan dishahihkan al-Albani)

Anda bisa ikuti arahan mereka. Menanamkan rasa tawakkal kepada Allah, ketika memulai berumah tangga.

▶ *Kedua, Hadirkan Semangat Niat untuk Menjaga Kehormatan*

Ketika anda menikah dalam rangka mencari yang halal, maka pernikahan anda bernilai ibadah.  Itulah, anda berhak mendapatan pertolongan dari Allah.

Dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمُ الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِى يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ

_Ada tiga orang, Allah berhak membantunya: Orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang melakukan transaksi mukatabah (menebus dirinya), dan orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatan._ (HR. Nasai 1655, Turmudzi 1756, dan dihasankan al-Albani).

▶ *Ketiga, Pahami hak dan kewajiban*

Bagian inilah yang paling penting. Masing-masing pasangan harus memahami hak dan kewajiban masing-masing. Setiap keluarga berpeluang menjadi keluarga yang baik, ketika masing-masing memenuhi semua yang menjadi tanggung jawabnya.

Demikian, semoga Allah mengabadikan kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.

👤 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

📨 Diposting dan disebarkan kembali oleh Maa Haadzaa

🕌 Silahkan bergabung untuk mendapatkan info seputar kajian dan atau ilmu sesuai sunnah
Melalui:
Website https://www.maahaadzaa.com
Join Channel Telegram https://goo.gl/tF79wg
Like Facebook Fans Page https://goo.gl/NSB792
Subscribe YouTube https://goo.gl/mId5th
Follow Instagram https://goo.gl/w33Dje
Follow Twitter https://goo.gl/h3OTLd
Add BBM PIN: D3696C01
WhatsApp Group khusus *Ikhwan* https://chat.whatsapp.com/26d04EvZswV2ekJw8N8RXI
WhatsApp Group khusus *Akhwat* https://chat.whatsapp.com/2Xk8kM4A5xiBVWvAfbB8rV

Silahkan disebarluaskan tanpa merubah isinya. Semoga menjadi ladang amal kebaikan untuk kita.
Jazaakumullahu khairan.